LOST OF ADAB : PENTINGNYA MATERI ADAB DI KALANGAN PENCARI ILMU
- Posted by yayasankmi@gmail.com
- Posted in Makalah
LOST OF ADAB : PENTINGNYA MATERI ADAB DI KALANGAN PENCARI ILMU
TUGAS MAKALAH
MPAI 2019/2020

SALMAN ALFARISI
UNIVERSITAS IBNU KHALDUN
BOGOR
PENDAHULUAN
Berbicara mengenai adab, mengingatkan kita terhadap sosok Profesor keturunan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (salah satu Habib yang berpengaruh di Nusantara), yaitu Syed Muhammad Naquib al-Attas. Suatu hari, dalam seminar pendidikan Islam Internasional di Makkah, thn 1977. Prof Naquib al-Attas ditanya oleh salah seorang anggota seminar tersebut, “Apa permasalahan terbesar yang sedang dihadapi oleh umat Islam saat ini?.”
Beliau menjawab, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini mencakup dua hal; Pertama, masalah Eksternal, yang berupa serbuan pemikiran-pemikiran yang merusak, hal ini dimaksudkan dengan gerakan westernisasi dari Barat. Kedua, masalah Internal, yaitu hilangnya adab (loss of Adab). Sebagaimana pernyataannya,”the central crisis of Muslim today is loss of adab”.
Lebih jauh lagi, Beliau mengartikan loss of adab sebagai; “loss of disipline-disipline of body, mind and soul.” Menurut Beliau hal ini terjadi akibat kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan. Yang pada akhirnya, ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual yang mencukupi.
Sehingga semua permasalahan ini membawa kerusakan di berbagai sektor kehidupan, baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam hal ini, terlihat bahwa permasalahan yang dihadapi umat Islam ini sudah sangat akut, mungkin kalau dianalogikan dengan penyakit, masalah ini diibaratkan seperti orang yang terjangkit penyakit kangker stadium tertinggi. Hingga ahirnya gagasan “adab” ini menjadi pusat perhatian banyak kaum cendekiawan, terutama cendekiawan Muslim.
Diantara salah satu Kitab yang membahas masalah adab ialah kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” karya Hasyim Asy’ary. Disitu Beliau megeluarkan pendapatnya tentang adab, dimana Beliau mengatakan,
“Tauhid mewajibkan iman. Barang siapa tidak beriman, ia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syari’at, maka barangsiapa yang tidak ada syari’at padanya, ia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syari’at mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab, (pada hakikatnya) tiada syari’at, tiada iman dan tiada tauhid padanya.”
Lalu “apa yang dimaksud dengan adab?”. Kebanyakan orang yang mendengar istilah “adab” mereka akan mengatakan, “adab adalah sopan santun” sebagaimana yang tertulis di KBBI, adapun yang mengatakan adab adalah etika, moral bahkan karakter.
Masalahnya begini, jika adab ini diartikan sebagai sopan santun, maka perbuatan Nabi Ibrahim terhadap Ayahnya, sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Al-Anbiya’: 54 yang mengatakan; “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”, ini merupakan perbuatan yang tidak beradab.
Adab juga tidak bisa diartikan sebagai karakter, sebab karakter merupakan istilah Barat yang telah disekulerkan. Jika adab diartikan sebagai karakter, nanti yang ada orang sekuler akan berkata,”orang yang berkarakter itu adalah yang suka tolong menolong, meskipun dia berzina.” Pertanyaannya, apakah orang yang beradab itu hanya sebatas berbuat baik kepada sesamanya?
Semua pengertian yang seperti ini tidak bisa dibenarkan. Sebab istilah “adab” ini datangnya dari Islam. Sehingga untuk menjadi manusia yang beradab, bukan hanya berbuat baik kepada sesama manusia melainkan juga kepada Tuhannya. Seorang muslim harus mengingat, bahwa dalam Islam, konsep adab memiliki suri tauladan yang dijadikan sebagai panutan, yaitu Rasulullāh Sallallahu’alayhi wasallam.
Sementara karakter? Apakah karakter memiliki suri tauladan?, yang ada orang akan bertanya, “Siapa yang paling berkarakter yang bisa dijadikan contoh?” apa kemudian orang akan menjawab, Sigmund Freud? Jadi apa itu adab??”
- Konsep Adab
Menurut al-Attas, secara etimologi (bahasa); adab berasal dari bahasa Arab yaitu addaba-yu’addibu-ta’dib yang telah diterjemahkan oleh al-Attas sebagai ‘mendidik’ atau ‘pendidikan’.1 Dalam kamus Al-Munjid dan Al Kautsar, adab dikaitkan dengan akhlak yang memilki arti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.2 Sedangkan, dalam bahasa Yunani adab disamakan dengan kata ethicos atau ethos, yang artinya kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika.3
Menurut al-Attas, akar kata adab tersebut berdasarkan dalam sebuah hadis Rasulullah saw yang secara jelas mengunakan istilah adab untuk menerangkan tentang didikan Allah SWT yang merupakan sebaik-baik didikan yang telah diterima oleh Rasulullah saw. Hadis tersebut adalah: “Addabani Rabbi pa Ahsana Ta’dibi” : Aku telah dididik oleh Tuhanku maka pendidikanku itu adalah yang terbaik. Adapun secara istilah (terminology), al-Attas mendefinisi adab sebagai suatu:
Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanam kedalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan. 4
Bila dibandingkan dengan pandangan para sarjana dan cendikiawan muslim. Seperti:
- Al-Jurjani, mendefinisikan adab adalah proses memperoleh ilmu pengetahuan (ma’rifah) yang dipelajari untuk mencegah pelajar dari bentuk kesalahan.5
- Ibrahim Anis mengatakan adab ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia.6
- Ahmad Amin mengatakan bahwa adab ialah kebiasaan baik dan buruk.7
- Soegarda Poerbakawatja mengatakan adab ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, yaitu kelakukan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.8
- Hamzah Ya’qub mengemukakan pengertian adab sebagai berikut:
- Adab ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
Dalam bukunya “Risalah Untuk Kaum Muslimin” Prof Al-Attas memberikan penjelasan bahwa “adab” adalah “right action” yang berangkat dari pengenalan (recognition) dan pengakuan (acknowledgmen). Sebagaimana penjelasan Dr. Ardiansyah Ian Kusnadi, dalam penelitian disertasinya yang berjudul “Pendidikan berbasis Adab menurut Al-Attas”, Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengenalan ini adalah ‘ilm, sementara pengakuan dimaksudkan dengan ‘amal.
Sejatinya, pengenalan dan pengakuan yang dimaksud al-Attas ini tidak lain ialah untuk melawan penyamarataan. Ketika, kedua hal tersebut telah terlaksana, maka terjadilan suatu kondisi yang disebut Al-Attas sebagai “keadilan” (‘adl), dimana segala sesuatu akan ditempatkan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan Allah. Disamping itu, Al-Attas juga mengatakan bahwa “Adab is coming from Hikmah”. Hikmah itulah buah daripada ilmu.
Berawal dari pengenalan yang benar, akan timbul cara pandang yang benar, dan timbullah satu pengakuan atau perbuatan yang benar dan tepat, sehingga tidak ada lagi penyamarataan atas segala sesuatu. Ketika seseorang mengenal dengan benar akan Tuhannya, maka dia tidak akan menyamaratakan Tuhan dengan makhluk-Nya.
- Pentingnya Adab Bagi Manusia dan Pendidikan
Secara normatif, tujuan pendidikan nasional menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasar rumusan pasal ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan intelektual bukan menjadi tolok ukur satu-satunya dari kesuksesan penyelenggaraan pendidikan. Religiusitas, karakter, dan perilaku juga menjadi aspek utama.
Lahirnya visi pendidikan nasional tersebut tidak terlepas dari berbagai bentuk kerusakan moral yang banyak melanda kalangan pelajar usia remaja. Inilah persoalan besar di internal masyarakat yang oleh Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas disebut sebagai “lost of adab” yang dimaknai sebagai “lost of dicipline – the dicipline of body, mind, and soul; the dicipline that assures the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials; the recognition and acknowledgement of the fact that knowledge and being are ordered hierarchically.”
Persoalannya, siapakah yang bertanggung jawab atas proses menuju tercapainya visi tersebut? Apakah lembaga pendidikan formal seperti sekolah seharusnya dijadikan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anak bangsa di tengah potensi lost of adab?
Membaca realita yang ada, masih banyak yang memiliki pemikiran bahwa urusan pendidikan adalah urusan sekolah. Banyak orang tua yang memilih untuk menjadi sosok minimalis dalam menjalankan peran edukatifnya kepada anak-anak mereka. Padahal mereka bisa berperan lebih besar daripada sekadar mengantar dan menjemput, membiayai keperluan sekolah anak, dan juga memasukkan anak ke lembaga bimbingan belajar jika dirasa anak masih kurang menguasai materi di sekolahnya. Di sisi lain, tuntutan mereka teradap sekolah sangat tinggi. Implikasinya, para pendidik di sekolah kerap diposisikan sebagai sau-satunya pihak bersalah atas segala kondisi negatif peserta didiknya. Mucullah situasi dilematis. Sebagian pendidik di sekolah memilih “mencari aman” daripada harus terlibat urusan panjang dengan orang tua siswa. Guru menjadi enggan untuk memberikan nilai kognitif dan psikomotor sesuai kapasitas sesungguhnya dari tiap siswa. Guru juga menjadi tidak mudah untuk memberikan nilai afektif di bawah Itulah mengapa kemudian terbentuk persepsi bahwa dunia pendidikan sangat permisif terhadap perilaku menyimpang para pelajar, khususnya remaja. Sekolah dipandang bukan lagi menjadi solusi atas persoalan pembangunan karakter anak bangsa.
- Adab dalam Perfektif Penuntut Ilmu
Tantangan pendidikan Islam saat ini adalah hilangnya adab (loss of adab). Terjadinya loss of adab dalam pendidikan karena dua hal; pertama akibat pengaruh besar arus dominan sekularisasi dalam pendidikan Islam. Kedua meninggalkan tradisi pendidikan para ulama, tidak mengenalnya dan abai atas dasar-dasar ilmu para ulama yang akibatnya menurunkan otoritas ulama Islam. Kegiatan pendidikan Islam semestinya memiliki landasan Islamic Worldview. Tujuan dan asasnya berdasarkan konsep-konsep dasar Islam.
Pandangan hidup Islam adalah pemahaman seorang Muslim terhadap konsep-konsep kunci dalam Islam, seperti konsep tentang Tuhan, wahyu, nabi, manusia, jiwa, alam, ilmu dan lain-lain. Lalu, menjadikan konsep-konsep kunci tersebut sebagai alat dasar dalam merancang falsafah pendidikan. Oleh sebab itu, pembentukan karakter penuntut ilmu sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup ini.
Cara pandang, sikap dan etika seorang Muslim dikendalikan oleh pemikirannya dalam memahami realitas alam ini, baik realitas fisik maupun metafisik. Seorang Muslim yang memiliki visi keakhiratan memiliki perspektif berbeda dengan seseorang yang bervisi keduniawiyaan semata dalam melihat setiap realitas dalam kehidupan.
Pendidikan, merupakan wadah pengembangan ilmu pengetahuan. Baik tidaknya masyarakat dikembalikan kepada benar tidaknya ilmu yang dipelajari. Manusia menjadi beradab karena mengamalkan ilmu dengan baik dan benar. Sebuah pemikiran tidak beradab jika pemikiran tersebut tidak sesuai epistemologi Islam, anti-otoritas, meyakini kebenaran itu relatif dan lain sebagainya.
Maka, menyamakan ijtihad imam Syafi’i — misalnya — sama sebanding dengan hasil olah pikiran kita yang awam adalah tidak beradab. Karena kita menyamakan diri yang awam dengan seorang ulama yang hebat dalam satu derajat. Selain itu, kita salah memahami konsep ijtihad ulama. Bahwa ijtihad itu ada syarat, kaidah, dan prosedurnya. Tidak sekedar menjiplak teks lalu diambil kesimpulannya sendiri. Ijtihad ada syarat dan rukunnya, dimana Muslim awam tidak mudah melakukannya. Ini juga contoh lain lost of adab. Jadi, pendidikan kita masih banyak celah dalam beberapa sisi. Ini karena telah meninggalkan tradisi para ulama. Hilangnya adab (lost of adab) dalam Pendidikan Islam itu juga misalnya bisa dilihat dari fenomena orang pintar tapi tidak berakhlak.
Salah faktor yang bisa kita identifikasi adalah karena tidak ada pengetahuan tentang mana fardhu ain dan mana ilmu yang fardhu kifayah dan yang jaiz (boleh). Bahkan dipandang ilmu fardhu ain tidak ada kaitan dengan ilmu yang lain.
Tidak sedikit pelajar-pelajar yang prestasi di bidang sains dan teknologi. Namun belum banyak yang mampu mensinergikan dengan pengetahuan agama. Banyak ditemui seorang insinyur atau peneliti sains, akan tetapi malas beribadah. Dan yang paling banyak adalah, mereka memilih profesi tersebut dan menekuni ilmu itu hanya untuk menambah kekayaan. Mereka memilig fakultas kedokteran agar kelak menjadi kaya. Akibatnya, kuliah bukan karena mencintai ilmu atau menunaikan kewajiban fardhu kifayah, tapi sekedar berburu uang. Cara pandang demikian dapat dinilai kurang beradab. Sebab melepaskan dimensi ketuhanan dalam aktifitas keilmuan. Cara pandang ini sangat rawan menjadikan ilmuan yang ‘menghalalkan’ segala cara dalam aktifitasnya.
Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib bagi tiap-tiap individu Muslim mengetahuinya. Mencakup ilmu yang berkenaan dengan i’tiqad (keyakinan). Ilmu-ilmu yang menyelamatkan dari keraguan (syakk) iman. Tujuan ilmu ini untuk menghilangkan kekeliruan iman, dan bisa membedakan antara yang haq dan bathil.
Dimensi lain – dari ilmu fardhu ‘ain – adalah ilmu-ilmu yang berkenaan dengan perbuatan yang wajib akan dilaksanakan. Misalnya, orang yang akan berniaga wajib mengetahui hukum-hukum fiqih perniagaan, bagi yang akan menunaikan haji wajib baginya memahami hukum-hukum haji. Dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang harus ditinggalkan seperti sifat-sifat tidak terpuji dan lain-lain.
Sedang ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian masyarakat Islam, bukan seluruhnya. Dalam fardhu kifayah, kesatuan masyarakat Islam secara bersama memikul tanggung jawab kefardhuan untuk menuntutnya (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin jilid 1).
Dinamisasi konsep fardhu ‘ain dan fardlu kifayah sangat signifikan menunjang pembaharuan pendidikan yang lebih beradab. Dalam konteks kontemporer sekarang, profil ulama sekaligus cendekiawan atau ilmuan sekaligus agamawan merupakan kebutuhan. Banyak fisikawan yang cerdas, namun belum banyak memahami ilmu syar’i, atau sebaliknya ulama tapi minim wawasan ilmu-ilmu fardhu kifayah, seperti ilmu peradaban dan filsafat Barat, astronomi, sains dan lain-lain. Dalam konteks sekarang – apalagi – ilmu-ilmu peradaban asing perlu diketahui ulama’, agar teliti dan kritis jika ada konsep-konsep ‘asing’ yang masuk ke dalam pemikiran umat saat ini.
Jadi, lost of adab dalam pendidikan karena kita tidak mengenal lagi level ilmu-ilmu Islam. Tidak dibedakan lagi fardhu ain dan fardhu kifayah. Pendidikan Islam harus melahirkan orang beradab. Muslim beradab adalah yang lahir dari sistem pendidikan yang memahami level ilmu Islam.
- Pelajaran-pelajaran Adab di Q.S Al-Hujurat
Surah Al-Hujurat berbicara tentang adab-adab interaksi, terutama interaksi dengan Nabi SAW. Dengan begitu, kita dapat memahami rangkaian tiga surat dan hubungan antara satu dengan lainnya, dimana Nabi SAW aalah satu fokus bahasannya. Surat Muhammad menjelaskan bahwa mengikuti Nabi SAW adalah bukti diterimanya amal. Surat Al-Fath menjelaskan sifat-sifat orang-orang yang mendapatkan kemenangan, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia…”. Sedangkan surah Al-Hujurat memberikan pesan, “Wahai orang yang akan mendapatkan kemenangan, hiasilah diri dengan adab-adab sosial, terutama adab kepada Nabi SAW.” Seolah-olah beberapa sifat yang disebutkan di akhir surat Al-Fath, pengorbanan dan kesungguhan, serta keseimbangan antara ibadah dan keberhasilan dalam kehidupan, masih membutuhkan penyempurnaan. Adapun penyempurnaannya adalah sifat-sifat yang terkait dengan moral dan tata krama (adab) yang disebutkan daam surat Al-Hujurat.
Pertama: Adab terhadap syariat
Surah Al-Hujurat adalah surah cita rasa dan tatakrama dalam setiap kondisi. Adab pertama yang harus diperhatikan adalah adab terhadap syariat Allah swt, Yaitu ;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 49:1).
Ayat ini berkata kepada para sahabat, “Janganlah kalian tergesa-gesa meminta turunnya wahyu, beradablah terhadap syariat, terhadap Allah dan Rasul-Nya.”
Penerapan ayat ini dalam kehidupan kita adalah tunduk pada syariat Allah dan Sunnah Nabi-Nya, tanpa melakukan pelanggaran terhadap keduanya.
Kedua: Adab terhadap Nabi SAW
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs 49:2)
“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka ituah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa (QS 49: 3)
“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 49:4-5)
Ketiga: Adab terhadap berita
Adab terhadap berita yaitu tidak mentransfer berita, mengulangnya dan menyimpulkan hukum atau sikap darinya, sebelum memastikan kebenarannya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Qs 49:6
Keempat: Adab terhadap Sesama Mukmin
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…. “
Persaudaraan karena iman dapat menguatkan dan mengokohkan ikatan manusia, antara satu dengan lainnya, termasuk memperkuat keimanan. Tanpa persaudaraan akan terjadi banyak perselisihan dan iman pun melemah ….
Kelima: Mendamaikan yang berselisih
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah …(Qs 49:9)
Keenam: Adab Berinteraksi
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang memperolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Qs 49:11)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs 49:12)
Ketujuh: Adab terhadap seluruh manusia
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “ Qs 49:13
Sebarkan Akhlak islam.
Sebagai catatan, mengapa tatakrama (adab) pergaulan dengan sesama manusia diakhirkan? Padahal ini lebih umum dari adab-adab yang dijelaskan lebih dulu. Hikmahnya adalah setelah memperbaiki diri serta meluruskan hubungan dengan Nabi saw dan saudara seiman, mulailah bergerak ke berbagai penjuru bumi, dan perkenalkan akhlak Islam kepada dunia. Ketika moralitas dan sifat baik telah memenuhi jiwa, hingga melimpah kepada orang lain, maka penghormatan dari umat manusia dan kemuliaannya akan kita dapatkan.
Kedelapan: Adab Interaksi dengan Allah
Adab terakhir yang disebutkan oleh Surah Al-Hujurat adalah hubungan dengan Allah dapat direalisasikan dengan meresapi nikmat iman sebagai pemberian dan karunia dari Allah. Jangan sampai seseorang merasa telah berjasa kepada Allah swt dengan keimananna, sebab Dia-lah pemilik segala jasa dan kemulian. “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Qs. 49: 17
Referensi
- Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam. Terj. dari Bahasa Inggris oleh Haidar Bagis
(Bandung: Mizan, 1996), h. 60.
- Luis Ma’ruf, Kamus Al-Munjid, Al-Maktabah Al-Katulikiyah (Beirut, tt), h. 194; Husin Al-Habsyi, Kamus Al Kautsar (Surabaya: Assegraff, tt), h. 87.
- Sahilun A. Nasir, Tinjauan Akhlak, 1 (Surabaya: Al Ikhlas, 1991), h. 14.
- Wan Wan Mohd Nor Wan. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. dari Bahasa Inggris oleh Hamid Fahmi, M. Arifin Ismail dan Iskandar Bandung: Mizan, 2003 h. 60.
- Ibrahim Anis, Al-Mu’jam Al-Wasit (Mesir: Darul Ma’arif, 1972), h. 202.
- Amhad Amin, Kitab Al-Akhlak (Cairo: Daral-Kutub Al-Misriyah, tt), h. 15.
- Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan (Jakarta: Gunung Agung, 1976), h.9.
- Al-Attas, Konsep Pendidikan 52-53, 74-75 dan 83.
